BMKG

-->

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG KLIMATOLOGI LAUT







Oleh 
Nama                       : Dian Lestari Putri
        NIM                         : H1K010058
        Kelompok              : 16
          Asisten                    : Wulan Nur K



JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012





KLIMATOLOGI
Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari iklim dan merupakan sebuah cabang dari ilmu atmosfer. Dikontasakan dengan meteorologi yang mempelajari cuaca jangka pendek yang berakhir sampai beberapa minggu. Klimatologi mempelajari beberapa frekuensi dimana sistem cuacaa ini terjadi.
Klimatologi tidak mempelajari fenomena atmosfer sacara tepat (misalnya pembentukan awan, curah hujan dan petir) tetapi mempelajari kejadian rata-rata selama beberapa tahun sampai millenia dan juga perubahan dalam pola cuaca jangka panjang, dalam hubungannya dengan kondisi atmosfer.
BMKG
BMKG adalah lembaga pemerintahan Non Kementerian Tugas pokok dan fungsi dan BMKG berdasarkan SK KBMG Nomor. KEP.005 Tahun 2004, Stasiun Meteorologi Cilacap mempunyai tugas ; Melaksanakan pengamatan, pengumpulan dan penyebaran data, penganalisaan dan prakiraan di dalam wilayahnya serta pelayanan jasa meteorologi.
Berikut  adalah alat-alat yang dipakai dalam pengamatan parameter-parameter meteorologi, klimatologi dan geofisika :


1.             Open Pan Evaporimeter

Gambar 1. Open Pan Evaporimeter
Evaporimeter panci terbuka digunakan untuk mengukur evaporasi. Makin luas permukaan panci, makin representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai dan lain-lainnya.
1.                  Panci Bundar Besar
Terbuat dari besi yang dilapisi bahan anti karat. Panci ini mempunyai garis tengah 122 cm dan tingginya 25,4 cm.
2.         Hook Gauge
Suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook Gauge mempunyai bermacam-macam bentuk, sehingga cara pembacaannya berlainan. Untuk jenis cassella, terdiri dari sebuah batang yang berskala, dan sebuah sekrup yang berada pada batang tersebut, digunakan untuk mengatur letak ujung jarum pada permukaan air dalam panci. Sekrup ini berfungsi sebagai micrometer yang dibagi menjadi 50 bagian. Satu putaran penuh dari micrometer mencatat perubahan ujung jarum setinggi 1 mm. Hook gauge buatan Perancis mempunyai micrometer yang dibagi menjadi 20 bagian. Dalam satu bagian menyatakan perubahan tinggi jarum 0,1 mm, berarti untuk satu putaran penuh, perubahan tinggi jarum sebanyak 2 mm
Cara Kerja Alat :
Dengan adanya penguapan, permukaan air pada panci akan berkurang. Pengukurandilakukan didalam still well yang terdapat lubang pada dasarnya untuk jalan masuk air. Jumlahair yang menguap dalam jangka waktu tertentu diukur menggunakan hook gauge dengan merubahletak ujung jarum sampai menyentuh permukaan air. Pengamatan dilakukang dengan mencatat hasil pengukuran perubahan tinggi air pada panci penguapan, pencatatan kecepatan angin rata-rata dari cup counter anemometter serta pencatatan jumlah curah hujan dari penakar hujan OBS yang terpasang.

2.             Sangkar Metorologi

      Gambar 2. Sangkar Metorologi
Sangkar metorologi mempunyai dua buah pintu dan dua jendela yang berlubang-lubang/kisi. Lubang/kisi ini memungkinkan adanya aliran udara. Temperatur dan kelembaban udara didalam sangkar mendekati/hampir sama dengan temperatur dan kelembaban udara diluar.
Sangkar dipasang dengan pintu membuka/menghadap Utara-Selatan, sehingga alat-alat yang terdapat didalamnya tidak terkena radiasi matahari langsung sepanjang tahun. jika matahari berada pada belahan bumi selatan pintu sebelah utara yang dibuka untuk observasi atau sebaliknya.

3.             Penakar Hujan Observatorium (OBS)

 Gambar 3. Penakar Hujan OBS

             Penakar hujan tipe observatorium adalah penakar hujan tipe kolektor yang menggunakan gelas ukur untuk mengukur air hujan. Penakar hujan ini adalah merupakan penakar hujan yang paling banyak digunakan di Indonesia dan merupakan "standar" di negara kita.
Cara Kerja Alat :
Saat terjadi hujan, air hujan yang tercurah masuk dalam corong penakar. Air yang masuk dalam penakar dialirkan dan terkumpul di dalam tabung penampung. Pada jam-jam pengamatanair hujan yang tertampung diukur dengan menggunakan gelas ukur. Apabila jumlah curah hujan yang tertampung jumlahnya melebihi kapasitas ukur gelas ukur, maka pengukuran dilakukan beberapa kali hingga air hujan yang tertampung dapat terukur semu

4.             Penakar Hujan Otomatis Hellman
Gambar 4. Penakar Hujan Otomatis Hellman

Penakar hujan jenis Hellman termasuk penakar hujan yang dapat mencatat sendiri. Gerakkan pena dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan bantuan tenaga per. Jika air dalam tabung hampir penuh, pena akan mencapai tempat teratas pada pias. Setelah air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas, air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal. Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dihitung atau ditentukan dengan menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat pada pias.
Prinsi Kerja :
1.                  Setiap terjadi hujan air akan masuk corong kemudian disalurkan ke    pelampung sehingga membuat pena naik dan membuat grafik pada pias
2. Ketinggian grafik menunjukkan jumlah curah hujan yang turun
3.    Jika curah hujan mencapai 10 mm/ lebih maka pena menunjukkan angka 10 mm sebagai angka maksimal, kemudian air akan tumpah dari pelampung melalui pipa hevel dan pena akan turun lagi ke angka 0 ( nol) . Jika masih ada hujan lagi maka pena akan akan mencatat lagi, demikian berlangsung terus menerus.

5.             Pschrometer Standar

Gambar 5. Pschrometer Standar

Terdiri dari empat buah thermometer
1.             Thermoneter bola kering
Termometer bola kering merupakan termometer air raksa dalam bejana kaca untuk mengukur suhu udara aktual yang terjadi. Satuan untuk suhu ini bias dalam celcius, Kelvin, fahrenheit. Seperti yang diketahui bahwa thermometer menggunakan prinsip pemuaian zat cair dalam thermometer. Jika kita ingin mengukur suhu udara dengan thermometer biasa maka terjadi perpindahan kalor dari udara ke bulb thermometer. Karena mendapatkan   kalor maka zat cair (misalkan: air raksa) yang ada di dalam thermometer mengalami pemuaian sehingga tinggi air raksa tersebut naik. Kenaikan ketinggian cairan ini yang di konversika dengan satuan suhu  (celcius, Fahrenheit, dll).
2.              Termometer bola basah
Suhu ini diukur dengan menggunakan thermometer yang bagian bawah thermometer dilapisi dengan kain yang telah basah kemudian dialiri udara yang ingin diukur suhunya. Perpindahan kalor terjadi dari udara ke kain basah tersebut. Kalor dari udara akan digunakan untuk menguapkan air pada a kain basah tersebut, setelah  itu baru digunakan untuk memuaikan cairan yang ada dalam  thermometer. Kelemahan thermometer bola basah yaitu  :
a.      Air raksa harganya mahal
b.      Air raksa tidak dapat digunakan untuk mengukur suhu yang sangat rendah.
c.        Air raksa temasuk zat beracun sehingga berbahaya  apabila tabungnya pecah.
3.             Termometer maximum
Termometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh) didekat tempat/ tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila suhu udara meningkat, tapi tidak dapat turun kembali pada saat suhu udara mendingin. Untuk mengembalikan air raksa ketempat semula, termometer ini harus dihentakan berkali-kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet. Termometer menunjukkan suhu udara tertinggi setelah terakhir dikembalikan
4.             Termometer minimum
Termometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi suhu udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih tinggi dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum. Prinsip kerja termometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah penghalang (indeks) pada pipa alkohol, sehingga apabila suhu menurun akan menyebabkan indeks ikut tertarik kebawah, namun bila suhu meningkat maka indek akan tetap pada posisi dibawah. Selain itu peletakan termometer harus miring sekitar 20-30 derajat, dengan posisi tabung alkohol berada di bawah. Hal ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan agar indek tidak dapat naik kembali bila sudah berada diposisi bawah (suhu minimum).
5.             Termohidrograf
Alat ini mencatat otomatis temperatur sebagai fungsi waktu. Thermograph ini adalah logam panjang yang terdiri dari 2 bagian, kuningan dan invar. Bentuk bimetal merupakan spiral. Terpasang pada sumbu horizontal dan diluar kotak Thermograph. Satu ujung bimetal dipasang pada kotak dengan sekrup penyetel halus, sehingga letak pena dapat diatur. Ujung lain dihubungkan ketangkai pena melalui sumbu horizontal sehingga dapat menimbulkan track/ rekaman pada kertas pias yang berputar 24 jam per rotasi. Jika temperatur naik, ujung bimetal menggerakkan tangkai pena keatas, dan sebaliknya. Sebelum dipakai, thermograph harus dikalibrasi terlebih dahulu. Alat ini harus ditempatkan dalam sangkar apabila dipakai untuk mengukur atmospher. Kertas thermograph diambil seminggu sekali.

6.             Thermometer tanah gundul

         gambar 6. Thermometer tanah gundul

Pengamatan suhu tanah sebetulnya dilakukan pada kedalaman 0 cm, 5 cm, 10 cm, 20 cm, 30 cm, 50 cm dan 100 cm. Pengukuran dilakukan pada tanah tertutup rumput dan pada permukaan tanah terbuka. Cara pembacaan termometer tanah tidak berbeda dengan pembacaan pada termometer bola kering.
Hal yang perlu diperhatikan adalah harus diusahakan agar membaca termometer dengan cepat dan cermat sehingga menghindarkan kesalahan paralaks. Untuk kedalaman 5 sampai 30 cm biasanya dipakai termometer yang bisa dibaca dari luar, sedangkan untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm biasanya dipakai termometer air raksa yang dimasukkan dalam tabung yang kuat.
Cara membaca termometer pada kedalaman 50 cm dan 100 cm :
  • Buka tutup tabung besi
  • Tarik tabung gelas yang terikat pada rantai dengan hati-hati
  • Pegang ujung gelas yang terikat dengan rantai
  • Baca termometer sampai persepuluhan derajat dengan cepat dan cermat
  • Waktu membaca usahakan membelakangi matahari, untuk menghindari pengaruh sinar matahari terhadap ketelitian pembacaan.
  • Kembalikan termometer ke tempat semula dengan hati-hati.
Suhu tanah umumnya rata-rata lebih besar daripada suhu daripada suhu di atmosfer sekelilingnya. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan panas di tanah lebih lama daripada di udara. Suhu tanah yang tertutup tanaman lebih kecil daripada suhu tanah gundul, karena tanaman memerlukan energi untuk keperluan transpirasi.

7.             Anemometer
    Gambar 7. Anemometer

Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam sebuah stasiun cuaca. Istilah ini berasal dari kata Yunani anemos, yang berarti angin. Anemometer pertama adalah alat pengukur jurusan angin yang ditemukan oleh oleh Leon Battista Alberti. Anemometer dapat dibagi menjadi dua kelas: yang mengukur angin dari kecepatan, dan orang-orang yang mengukur dari tekanan angin, tetapi karena ada hubungan erat antara tekanan dan kecepatan, yang dirancang untuk satu alat pengukur jurusan angin akan memberikan informasi tentang keduanya.
8.             Automatic Weather System
Alat ini berfungsi sebagai sensor pengukur suhu udara, kelembaban, tekanan udara, arah angin, kecepatan angin, cura hujan, dan penyinaran matahari.

9.             Campbell stokes
Description: D:\Akademik\TUGAS KULIAH\klimatologi laut\buat riska\DSC02667.JPG
Gambar 9. Campbell stokes

Alat ini berfungsi untuk mengukur lamanya penyinaran matahari. Lamanya penyinaran sinar matahari dicatat dengan jalan  memusatkan (memfokuskan) sinar matahari melalui bola gelas hingga fokus sinar matahari tersebut tepat mengenai pias yang khusus dibuat untuk alat ini dan meninggalkan pada jejak pias. Pias ditempatkan pada kerangka cekung yang konsentrik dengan bola gelas dan sinar yang difokuskan tepat mengenai pias. Jika matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini, maka akan diperoleh jejak pias terbakar yang tak terputus. Tetapi jika matahari bersinar terputus-putus, maka jejak dipiaspun akan terputus-putus. Dengan menjumlahkan waktu dari bagian-bagian terbakar yang terputus-putus akan diperoleh lamanya penyinaran matahari. Cara kerja alat ini adalah pada saat matahari bersinar cerah, sinar matahari yang jatuh pada bola kaca akan difokuskandan jatuh pada kertas pias. Pemfokusan itu akan membakar kertas pias. Pergerakan matahari dari timur ke barat (karena adanya rotasi bumi), akan menggeser pembakaran pada kertas pias. Pias diangkat dan diganti kemudian dibaca jejak  pembakarannya dengan menggunakan papan skala untuk memperoleh data lama matahari bersinar.
Pias Campbell Stokes ada 3 macam :
a.         Pias lengkung panjang
b.         Pias lengkung  pendek
c.                  Pias lurus

10.         Theodolite
         Description: F:\Kuliah\semester 4\alat2 klimato\CIMG1513.JPG
           
Gambar 10. Theodolite
Theodolite adalah alat yang dirancang untuk pengukuran sudut, yaitu sudut mendatar yang disebut dengan sudut horisontal dan sudut tegak disebut dengan sudut vertical. Sudut-sudut tersebut berperan dalam penentuan jarak mendatar dan jarak tegak diantara dua buah titik lapangan.

11.         Automatic Weather System (AWS)

Gambar 11. Automatic Weather System

AWS  (Automatic Weather Stations) merupakan suatu peralatan atau sistem terpadu yang di disain untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses agar pengamatan menjadi lebih mudah. AWS ini umumnya dilengkapi  dengan sensor, RTU (Remote Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian lainnya.
Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan kecepatan angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net radiometer. RTU (Remote Terminal Unit) terdiri atas data logger dan backup power, yang berfungsi sebagai terminal pengumpulan data cuaca dari sensor tersebut dan di transmisikan ke unit pengumpulan data pada komputer.
AWS memiliki kelebihan yaitu cara kerjanya bersifat otomatis sehingga tidak terlalu susah dalam pengamatan, namun AWS  juga memiliki sisi kelemahan yaitu data akan tidak valid/ alat tidak dapat bekerja apabila tidak terdapat arus listrik, sehingga arus listrik merupakan factor penentu untuk berjalannya alat ini.

12.         Barometer
Gambar 12. Barometer

Membandingkan perbedaan tinggi air raksa dalam tabung gelas dan di dalam bejana. Barometer air raksa berfungsi untuk mengukur tekanan udara. Terdiri dari tabung gelas berisi air raksa, bagian atasnya tertutup dan bagian bawahnya terbuka dimasukkan ke dalam bejana air raksa.

13.         Barograf
Gambar 13. Barograf

Barograph umumnya menggunakan prinsip Barometer Aneroid, dengan menghubungkan beberapa kapsul/ cell aneroid dengan sebuah pena untuk membuat track pada kerta pias yang diletakkan pada tabung yang berputar 24 jam per rotasi. Pada pias terdapat garis-garis tegak menunjukkan waktu dan garis mendatar menunjukkan tekanan udara.Tingkat keakuratan dari barograph, salah satunya ditentukan oleh jumlah kapsul/ cell aneroid yang digunakan. Semakin banyak kapsul aneroid yang digunakan maka semakin peka barograph tersebut terhadap perubahan tekanan udara.

14.         Anemometer otomatis
Gambar 14. Anemometer otomatis

Alat ini diletakkan didalam ruangan supaya terhindar dari sinar matahari dan mempermudah pemantauan yang derguna untuk mengukur arah dan kecepatan angin.


LAJU DIGESTI


HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1.  Laju digesti Ikan Lele (Clarias batrachus)
Kel
0 menit
15 menit
30 menit
 X (gr)
LD (%)
Y (gr)
LD (%)
Z (gr)
LD (%)
1
0,45
100
0,40
88,89
0,6
133,33
2
0,45
100
0,40
89
0,225
50
3
0,3
100
0,25
83,33
0,2
66,67
4
0,45
100
0,25
55,55
0,25
55,55
5
0,35
100
0,2
57,14
0,35
100
6
0,35
100
0,3
85,71
0,25
71,4

%  Laju Digesti =
Keterangan :
x = 0 menit
                  Y = 15 menit
                  Z = 30 menit

x                = 0,35 gram

%BLx        = x 100%
           = x 100%
 = 100 %

y                = 0,3 gram

%BLy        = x 100%
           = x 100%
 = 85,71%

z                = 0,25 gram

%BLz        = x 100%
           = x 100%
 = 71,42%

Grafik 1. Grafik hubungan Bobot Lambung Ikan lele (Clarias batrachus) dengan Waktu pengamatan













B. Pembahasan
Laju digesti adalah laju kecepatan pemecahan makanan dari tubuh ikan dari molekul yang kompleks ke molekul yang lebih sederhana dan kemudian akan diabsorpsi oleh tubuh ikan. Proses digesti yang terjadi dalam lambung  dapat diukur dengan mengetahui laju pengosongan lambung. Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris). Rongga mulut memiliki gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakan serta banyak menghasilkan lendir, tetapi tidak menghasilkan ludah (enzim). Makanan masuk ke rongga mulut makanan lalu masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar insang. Esofagus berbentuk kerucut, pendek, terdapat di belakang insang dan bila tidak dilalui makanan lumennya menyempit. Makanan di kerongkongan didorong masuk ke lambung, lambung pada umum-nya membesar, tidak jelas batasnya dengan usus (Sunde et al., 2004). Ikan jenis tertentu memiliki tonjolan buntu untuk memperluas bidang penyerapan makanan (Kusrini, 2008).
Ikan lele merupakan ikan yang mendiami rawa dan sungai yang cocok di pelihara di kolam air diam. Dapat hidup dalam lumpur dengan kualitas air yang rendah. Ikan lele selain ditemukan di rawa atau sungai, ternyata juga dapat ditemukan di perarairan payau atau agak asin (Effendi, 1979). Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki "kumis" yang panjang yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Ikan Lele (Clarias batrachus) memiliki klasifikasi sebagai berikut (Effendi, 1979) :
Phylum       : Chordata
Kelas           : Piscesa
Sub Kelas   : Teleostei
Ordo             : Ossariophychi
Famili          : Claridae
Genus         : Clarias
Spesies       : Clarias batrachus
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data perbandingan berat bobot lambung ikan lele setelah diberi pakan dengan selisih waktu tertentu. Hasilnya yaitu bobot lambung ikan 0 menit seberat 0,35 gram, 15 menit seberat 0,3 gram dan 30 menit seberat 0,25 gram setelah diberi makan 2.5% dari biomassa. Dari praktikum bobot lambung ikan dari menit 0 sampai kemenit 30 terjadi penurunan bobot lambung, hal ini sesuai refrensi menurut Yuwono (2001), seharusnya semakin lama waktu pengukuran setelah diberi pakan, maka semakin kecil bobot lambung. Hal ini karena molekul besar telah banyak yang didigesti menjadi molekul yang lebih kecil dan telah banyak diserap oleh usus. Namun pada percobaan pertama dan 6 ke 2 bobot lambung tidak sesuai referensi diatas, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi bobot lambung diantaranya ukuran dari organisme tidak seragam karena semakin sedikit organisme maka semakin sedikit pula organisme tersebut memakan pakan, selain itu faktor lingkungan (pH dan temperatur rendah atau tinggi nafsu makan menurun) dan kondisi organisme juga mempengaruhinya.
Perbedaan bobot tubuh bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perbedaan laju digesti yang mengakibatkan perbedaan bobot lambung antara ikan satu dengan ikan lainnya. Menurut Mujiman (1984), faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi laju digesti diantaranya temperatur, umur, aktivitas, jenis kelamin, dan faktor-faktor kimia yang terdapat dalam perairan seperti kandungan O2, CO2, H2S, pH dan alkalinitas. Temperatur optimal dan tingkat aktivitas ikan mengakibatkan laju metabolisme meningkat sehingga laju digestinya pun meningkat. Penurunan bobot lambung saat praktikum mungkin juga dikarenakan faktor-faktor tersebut. Suhu mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan. Proses pencernaan makanan yang dilakukan oleh ikan berjalan sangat lambat pada suhu yang rendah, sebaliknya lebih cepat pada perairan yang lebih hangat (Rounsefell dan Everhart, 1953). Secara teoritis setiap kenaikan suhu 10°C diatas 13°C akan mengakibatkan makanan yang dikonsumsi ikan meningkat dari 2 sampai 3 kali lipat. Suhu air yang optimal untuk selera makan ikan adalah antara 25°C sampai 27°C (Atmadja, 1977).
Laju digesti dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan lingkungan. Suhu tubuh, kesehatan, ukuran makanan dan stress berakibat pada menurunnya efisiensi pakan dan pengambilan nutrisi. Selain itu, menurut Yuwono (2001), digesti dimulai dari usus depan selama 1 –2 jam, kemudian menuju usus tengah dimana keberadaan pakan mencapai tingkat optimum 5 jam setelah proses makan dimulai.  Laju digesti pada umumnya berkolerasi dengan laju metabolisme ikan. Pengukuran waktu saat praktikum selama 15 menit dan 30 menit, sehingga hasil yang diperoleh saat praktikum besar kemungkinannya bukan merupakan suatu proses digesti akibat pakan yang diberikan saat praktikum. Biasanya semakin banyak aktivitas ikan itu, maka akan semakin banyak membutuhkan energi sehingga proses metabolismenya tinggi dan membutuhkan makanan yang mutunya jauh lebih baik dan lebih banyak jumlahnya (Kay, 1998).
Laju digesti juga dipengaruhi oleh enzim pencernaan. Enzim ini  berfungsi sebagai katalisator biologi reaksi kimia didalam pencernaan ikan, enzim – enzim ini disekresikan dalam rongga pencernaan berasal dari sel-sel mukosa lambung, pilorik kaeka, pankreas dan mukosa usus (Halver dan Hardy 2002). Beberapa contoh enzim pencernaan yang berfungsi sebagai hidrolisis nutrien makro dimungkinkan dengan adanya enzim perncernaan seperti protease, karboksilase, lipase dan selulase (Zonneveld et al., 1991). Semakin lama waktu setelah pemberian pakan maka aktivitas enzim protease di usus semakin berkurang. Hal ini menunjukan enzim protease diproduksi tergantung dengan kondisi pakannya (Muh Yamin et al., 2008).




KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum laju digesti pada Ikan Lele (Clarias batrachus) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Semakin lama waktu pengukuran bobot lambung semakin rendah tetapi karena ada beberapa faktor sehingga bobot lambungnya justru semakin besar. Faktor yang mempengaruhi laju digesti pada ikan adalah temperatur lingkungan dan kualitas pakan yang diberikan, ukuran tubuh, jenis kelamin, aktivitas, dan umur.
2.    Laju digesti ikan Lele pada 0 menit pertama yaitu 100%, 15 menit yaitu 85,71% dan 30 menit 71,42%.

B. Saran
Saat praktikum lagu digesti ikan yang digunakan terlalu kecil sehingga kesulitan dalam pengambilan lambung, untuk pengambilan lambung ikan yang kecil seharusnya alat yang digunakan dalam ukuran yang tidak terlalu besar agar memudahkan pengambilan lambung.







DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, G.W. 1977. Bahan Bacaan Akuakultur Jilid 1. Bagian Akuakultur. Departemen Tata Produksi Perikanan. IPB: Bogor.
Effendi, M.I.1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri: Bogor.
Halver JE & Hardy RW. 2002. Fish Nutrition. Academic Press. United States.
Kay, I. 1998. Inttoduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publiher Limited. Spinger-Verlag New York. USA.
Kusrini, Eni. & Sri, R. 2008. Anatomi Organ Pencernaan Pada Ikan. http://naksara.net/Aquaculture/Physiology/anatomi-organ-pencernaan-ikan-nila-merah.html. Diakses Tanggal 11 Mei 2012.
Mujiman, A.  1984. Makanan Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta.
Muhammad, Yamin., Palinggi, Neltje, N., & Rachmansyah. 2008. Aktivitas Enzim Protease dalam Lambung dan Usus Ikan Kerapu Macan setelah Pemberian pakan. Media Akuakultur Volume 3 No.1 Tahun 2008 40 - 44
Rounsefell, G.A. dan W.H. Everhart. 1953. Fishery Science its Methods and Aplication. John Wiley and Sons: New York.
Sunde, J., & Storer, T. J. 2004. General Zoology. Mc Graw-Hill Book Company Inc, London.
Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi Unsoed: Purwokerto.
Zonneveld N, Huisman EA dan. Boon JH. 1991. Prinsip – Prinsip Budidaya Ikan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 318 hal.


                           



LAJU DIGESTI PADA IKAN LELE (Clarias batrachus)

 








Disusun oleh :

Nama                            : Dian Lestari Putri
NIM                                : H1K010058           
R            ombongan               :  III
Kelompok                    : 6
Asisten                         : Diyanto
           
           
                                                                                               


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AKUATIK



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2012


Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

about me

Foto saya
halooo..... blog ini aku buat sebenarnya karna tugas, diblog ini aku memakai bhs.nasional,inggris,jawa,sunda,jepang dikit2..hehehehhe ^__^ :D

Pengikut

Blogroll

Blogger templates

Blogger news